- Back to Home »
- NASKAH DRAMA BAHASA INDONESIA
Posted by : Kawaii Yondaime^^
Senin, 19 Mei 2014
Dia Ayahmu
SHOFIYAH/24/XI A5
ADEGAN 1
Di suatu
perkampungan yang tak begitu padat akan penduduk, tinggalah sebuah keluarga
dengan kesederhanaanya. Rumah yang mereka tinggali memiliki teras yang terisi
oleh empat buah kursi kayu dan sebuah meja kecil yang bundar ditambah dengan
keramik yang berwarna hijau lumut. Jam baru menunjukkan pukul 10.00 ketika Pak Brata sedang menerima tamu.
Pak Brata :
(kaget) “Lhah? Mengapa kalian datang lagi ke mari? Bukan kah waktu pelunasan
hutangnya masih dua minggu lagi?”
Anak Buah 1 :
“Iya. Memang masih dua minggu lagi. Kamu pikir, keperluan apa lagi kita ke sini
selain ngurusi utang- utang mu itu?”
Anak Buah 2 :
(mengangguk- angguk) “ Heh, kamu jangan sok penting ya jadi orang, urusi saja
utang- tang mu itu!”
Pak Brata :
(berbicara dalam hati) “Dasar anak buah. Bisanya Cuma kroyokan.”
(berbicara normal) “Iya.
Kalian ke mari mau menyampaikan pesan juragan? Juragan marah sama saya?”
Anak Buah 2 :“Nah,
tumben kamu pinter. Sadar kalau hidup di belakang bayang- bayang juragan.”
(mengejek
Anak
Buah 1 : (tegas,mengangkat kaki di
atas meja)“Langsung ke inti saja. Juragan bilang, kalau dua minggu lagi
kalian belum bisa melunasi hutang- hutang mu yang seabrek itu, anak mu
itu,ingat ANAKMU, akan menjadi taruhannya.”(tersenyum sinis)
Pak Brata :
(Kaget, marah) “Ingat ya, anak saya tidak ada hubungannya dengan hutang- hutang
ku itu ke juragan. Kalian jangan berani bawa anakku. Kurang ajar. Lebih baik
kau bawa saja aku. Kalau perlu, jadikan aku budak untuk juragan.”
Anak Buah 2 :
“Eh, orang ngutangan bisa marah to.”
(terheran- heran, muka bloon)
Anak Buah 1 :
(menyuruh Anak Buah 1 diam)“Hah, menjadikanmu budak? Kamu pikir juragan bodoh
apa? Itu hanya untung di kamu.”
Anak Buah 2 :
“Kalau anak mu itu kan aduhai, semampai.” (membayangkan anak Pak Brata)
“Juragan
untung kalau kita berdua membawa dia.”
Pak Brata :
(marah) Aku memang punya hutang dengan juragan, tapi kan bentuknya uang. Jadi
kembalinya juga harus uang dong, masak kembalinya jadi anakku.”
Anak Buah 1 :
“Terserah apa katamu. Lebih baik kau pikir baik- baik bagaimana caramu membayar
hutang juraggan itu, jika kau tidak mau anakmu ku bawa ke hadapan juragan.”
Pak Brata :
(mantap)“Baiklah, aku pasti melunasi hutangku itu.”
Anak Buah 1 :
(berdiri) “Ah, membosankan bicara sama orang kolot. Saban hari jawabannya, aku
pasti akan melunasinya (menirukan logat Pak Brata). Kuping ku lama- lama panas
di sini. Cabut yok Bro.”
Anak Buah 2 :
(ikut berdiri) “Oke.”
Mereka pun pergi meninggalkan rumah Pak Brata. Pak
Brata pun segera masuk ke dalam rumah.
ADEGAN
2
Di sebuah ruang tengah yang terisi oleh TV 14 inch, 3 buah kursi bambu,
1 buah meja bambu kecil, nampak Pak Brata yang sedang memikirkan sesuatu. Dari
dalam ruangan itu, Pak Brata melihat Nala, anak satu- satunya yang hanya
lulusan SMA,berada di halaman sedang turun dari motor yang baru dibeli beberapa
minggu yang lalu.
Nala : (masuk ke ruang tengah, berhenti berjalan ketika
melihat Pak Brata yang tampak menerawang) “Kenapa murung gitu, Pak? Hidup itu
dibuat santai aja Pak, kayak di pantai. Jangan dibawa susah melulu. Orang hidup
kita itu sudah susah, masih mikir yang susah- susah.”
Pak Brata : “Bapak nggak murung, La. Bapak Cuma
lagi mikir sesuatu.”
(berbicara lirih sambil berbicara ke arah
lain) “Lha gene kamu itu dong (tahu) nduk, kalau hidup kita itu sudah susah. Kamu masih saja minta
dituruti semuanya.”
Nala : “Bapak ngomong apa, Pak? Nala nggak denger.”
Pak Brata : (membaca koran)“Bukan apa- apa kok,
nduk. Kamu senang sudah keturutan beli motor barunya?”
Nala : (duduk di sebelah Pak Brata)“Wah, seneng banget, Pak. Temen ku pada iri. Nala
gitu.”
Pak Brata : “ Oh ya sudah, kalau kamu seneng.”
Nala : “Bapak nggak
seneng ya, kalau Nala seneng?
Nala nyusahin Pak Brata ya?”
(pura-pura melas)
Pak Brata : “Bapak seneng. Sudah sana mandi.”
Nala : “Bagus deh kalau gitu, Nala mandi dulu ya Pak.”
(pergi ke KM)
Pak Brata : (Melihat kepergian Nala, melipat
koran)“Seneng apanya, nduk. Gara- gara motor kamu itu, kamu diincar juragan.
Gimana caranya ngomong sama kamu itu.”
Datang Ibu yang baru saja
pulang dari arisan di rumah tetangga.
Ibu : “Assalamu’alaikum. (mencium tangan Pak Brata)
Pak Brata : “Wa’alaikumusalam. Dari mana Bu?
Dari warung tetangga?”
Ibu : “Enggak lah, Pak. Ini kan Kamis, Ibu dari
arisan di rumah Bu Bandi, Pak.”
Pak Brata : “Dapat arisan nggak,Bu?”
Ibu : “Belum e,
Pak. Lha kenapa to ,Pak?”
Pak Brata :
“Gini, Bu. Tadi anak buah Juragan Karto datang ke mari, katanya hutang kita
harus lunas dua minggu lagi. Kalu enggak…”
Ibu : “Kalau enggak kenapa, Pak? Sesuatu yang buruk
ya, Pak?”
Pak Brata : “Kalau enggak, anak kita, Nala, akan
di minta oleh juragan.” (sedih)
Ibu : “Ya ampun, tega bener juragan sama kita.”
Pak Brata :“Makdarit (maka dari itu), Bu, Bapak
bingung harus gimana. Bapak nggak tega untuk memberitahu Nala.”
Ibu : “Nanti Ibu usahakan bicara sama Nala, Pak.”
ADEGAN 3
Di ruangan yang sangat luas, dengan berbagai properti yang mewah, tampak
seorang lelaki yang usianya hampir 60 tahun duduk di sebuah kursi. Kursi mewah
yang bercorak kulit harimau Sumatra asli yang ia daat beberapa waktu lalu.
Beberapa pengawal yang berbadan kekar, gagah, bermuka sangar, dengan sebuah
pistol di sakunya berdiri dengan tegap di kiri kanan lelaki tersebut. Lelaki
dengan tongkat di tangan kanannya
tersebut tampak memanggil seseorang.
Juragan Karto : “ Pengawal,
tolong panggilkan dua anak buahku.”(membelakangi pengawal)
Pengawal 1 : “Baik,juragan.” (membungkuk dan pergi
mencari anak buah)
Tak beberapa lama kemudian.
Pengawal 1 : “Ini juragan.”
Juragan Karto : “ Kerja bagus.”(menengok
ke arah anak buah)
(menoleh ke Anak buah 1 dan 2)“Bagaimana? Apa
kalian sudah menyampaikan pesan ku pada Brata?”
Anak Buah 1 :
“Sudah, Juragan.”(menjawab dengan mantap)
Juragan Karto :“Bagus.
Bagaimana reaksinya tadi? Salah sendiri, punya hutang banyak kok nggak berusaha mbayar.”
Anak Buah 2 :
“Reaksinya sangat bagus, Juragan. Dia marah- marah. Bahkan dia sangat yakin
akan membayar hutang-hutangnya itu.”
Juragan Karto :
“Pokoknya, jangan sampai dia tak bayar hutang itu. Atau kalau perlu, kalian
tarik saja rumahnya. Biar dia tahu sipa aku sebenarnya..” (berbicara dengan angkuh)
Anak Buah1&2 :
“Baik Juragan, kami mengerti.”(membungkuk)
Juragan Karto :
“Bagus- bagus.(mengusap- usap dagu)
Aku
yakin, dua minggu lagi, mereka pasti belum mampu membayar hutangnya. Aku harus membuat penawaran lain. Apakah kalian
memiliki ide lain untuk menakut- nakuti dia?”(memperhatikan kedua anak buah)
ADEGAN
4
Hari telah berganti. Seminggu lebih sudah lewat. Tampak Pak Brata tengah
termenung di ruang tengah ditemani secangkir kopi dan Ibu berada di sampingnya.
Walau demikian, pikiran Pak Brata belum berganti. Otaknya masih berpikir
seputar hutangya kepada Juragan Karto.
Pak Brata : “Gimana, Bu?
Ibu sudah memberi tahu ke Nala belum?”(minum kopi)
Ibu :
“Belum, Pak. Ibu juga takut, Pak. Anak kita itu kan nekat. Sebentar- sebentar
kabur.”
Pak Brata :
“Masa sesama perempuan takut, Bu. Ibu seharusnya bisa ngadepin dia.
Ealah
Bu, Bapak itu heran, kita ini dititipi anak satu sama Gusti Allah, tapi mengapa polahnya itu
lho, selalu bikin kita mengelus dada.”
Ibu :
“Tapi kan itu anak kita satu- satunya, Pak. Kalau nggak keturutan nanti pakai
acara kabur- kabur- kabur segala. Ibu itu sebenarnya juga bingung, mau ngadepin dia kayak gimana.”
Pak Brata :
“Itu salah Ibu. Coba kalau dulu Ibu nggak langsung nurutin apa yang Nala minta,
pasti nggak kayak gini. Sudah punya motor, masih mau motor baru. Ibu sih,
membela Nala, pake acara nggak mau jual motor yang lama segala.”
Ibu :
“Bapak jangan langsung nyalahin Ibu, ya. Ibu kan sayang sama Nala, Pak. Ibu
juga sudah terlanjur sayang sama motor itu. Ibu kalau ke arisan kan bisa
bergaya. Lagian kan Bapak juga bisa pakai motor itu kalau pergi kerja. Nala
juga bisa gonta ganti motor kalau mau
main. Tetangga akan bilang kalau kita itu berduit.”
(menoleh
ke Bapak, dengan tampang menginterograsi) Lhah, sekarang Ibu tanya, kenapa juga
Bapak mau beliin Nala motor?”
Pak Brata :
(meniru mimik dan gerakan bibir Ibu)
“Apa
Ibu lupa? Kan tiap pagi, tiap siang, tiap malam, Ibu maksa Bapak. Bapak risih, Bu.
Ya sudah, Bapak langsung pinjam saja uang ke Juragan Karto. Biar Ibu itu bisa
diam. Eh, malah sekarang begini masalahnya.”
Ibu :
“Esss, sudah sudah. Kok jadi ribut gini to, Pak. Ayo kita langsung kasih tahu
Nala saja kalau dia sudah pulang.”
Pak Brata :
.(nada setengah mengejek) “Paling pulangnya juga sore. Anak perempuan kok
kerjaannya Cuma maiiiiin mulu. Didik anak itu yang bener to, Bu. Didik anak
satu aja kok repotnya minta ampun.”
Ibu :
“Lha, mulai lagi. Itu kan anak kita, Pak. Mengapa yang disalahin Cuma Ibu? “
Pak Brata :
“ Ess, capek ngomong sama Ibu. Nasib jadi lelaki tunggal di rumah, nggak pernah
dihargai!” (pergi meninggalkan Ibu)
Beberapa jam
kemudian, nampak Nala di halaman depan.
Pak Brata :
“Dari mana saja kau, Nala?” (duduk merenung di teras)
Nala : “Dari rumah
temen, Pak. Ada apa, Pak? Kok serius amat?” (duduk di depan Pak Brata)
Pak Brata : “Kamu itu anak perempuan, kerjaanya
kok main mulu. Kamu itu mbok yo sekali- kali bantuin Ibu mu. Kamu
nggak mau Bapak sama Ibu mu ini cepat tua gara- gara marahin kamu terus, to?”(marah)
Nala : “Kenapa Bapak tiba- tiba
jadi marah sama Nala? Nala jelas nggak mau, lah. (cuek)
Pak Brata : “Lha kamu itu, apa-apanya kan sudah Bapak
turutin. Kamu minta sepeda motor baru, Bapak beliin. Itu kan biar kamu itu nurut sama Bapak dan Ibu mu. Tapi
kamu ini, punya motor baru, malah kluyuran nggak jelas, pulang- pulang sore
begini. Kamu minta motor cuma gengi kan? Kalau saja Ibu mu itu mau jual motor
kita yang dulu itu, kita tak akan terbelit hutang sebesar itu. Mana utang Bapak yang kemarin masih nunggak
lagi.”
Nala : “Iya, Pak. Lha kalau Nala
nggak punya motor baru, nggak ada yang mau temenan sama Nala, Pak. Kalau hutang
itu kan urusan Bapak sama Ibu.”(memain- mainkan rambutnya)
Pak Brata : “Nala, kamu itu sudah besar. Sudah tau
mana yang salah dan mana yang benar. Dunia ini nggak sempit. Masak Cuma nggak punya motor, nggak ada yang mau
temenan. Kayak anak kecil saja.
(duduk tegap) Ingat, kamu
ini lulusan SMA, mbok kamu itu coba ngelamar pekerjaan, bantu pemasukan Bapak, nggak cuma tidur, makan,
keluyuran. Bapak ngutang kan karena kamu dan Ibu mu itu. Apa- apa alesannya gengsi. Gengsi boleh, tapi
lihat- lihat kondisi, lha wong keluarga
kita pas- pasan gini kok masih mikir gengsi.. ”
Nala : “Iya Pak, iya. Nala tahu.
Gengsi out perlu,Pak. Sangat perlu, Pak.”
Pak
Brata : “Kamu ini tahu kan, kalau
kita ini nggak mampu, kamu tahu kalau kita selalu minjam sama Juragan Karto?
Kemarin, Juragan Karto bilang kalau kita nggak punya uang buat bayar, kamu akan
dijadikan simpanan, budaknya, atau entah apalah, Bapak nggak peduli. (pura-
pura acuh)
Kamu nggak mau kan dijadikan budak?” (melihat
Nala)
Nala : (kaget bukan main) “Apa?
Dijadikan simpanan orang tua kayak gitu? Enggak mau lah. Dia itu kurang puas
apa, istri sudah 3, harta berlimpah, serakah. Ogah banget. Nala nggak mau.”
(melipat tangan di dada, geleng-geleng)
Pak Brata : “Nah, kalau kamu nggak mau, kamu mau
kan, jual motor kamu itu buat bantu nglunasin utang Bapak dan Ibu? Nanti kalau Bapak
sudah dapat rejeki lagi, Bapak akan beliin kamu motor baru. Atau kamu bisa
gadaikan motor yang lawas itu.”
Nala : “Lhah, kok gitu, Pak?
(terkejut) Palingan rejekinya datang lima tahun lagi. (sinis)
(menyondongkan wajah
ke arah Pak Brata) Kan masih ada sawah, Pak. Kalu motornya di jual, nanti Nala
main pake apa, Pak? Nala dicap anak kampung, nggak punya motor.”
Pak Brata : “ Baik, kalau itu maumu.
Motor mu nggak Bapak jual, tapi kamu harusikut juragan! (mengangguk- angguk
santai)”
Nala : “Lhah. Bapak kok gitu, tega
sama anaknya sendiri. Terserah Bapak.!” (meninggalkan Bapak, maasuk ke kamar.)
Nala : (membanting pintu, menyetel musik sekeras-
kerasnya)
Pak Brata : (bicara lirih) “Bapak sebenarnya
terpaksa ngomong keras ke kamu, biar kamu itu sekali- kali nurut sama orangtua.
Nggak orangtua yang selalu nurutin kamu.”
Setelah kejadian itu, Nala mengurung diri di kamar hingga keesokan
harinya dan tak kunjung ke luar.
ADEGAN 5
Ibu nampak khawatir. Anak semata wayangnya tak kunjung keluar kamar.
Berkali kali ia mengetukpintu itu, namun tak ada jawaban.
Ibu : “Nala,
bangun Nak. Jangan mutung gitu, to. Ibu sedih kalau kamu mutung terus. Bapak
mu sudah pergi kerja.”
Nala : (teriak dari
dalam kamar) “Beneran, Bu? Bapak sudah pergi kerja?”
Ibu : “Iya. Ayo buruan ke luar. Biarkan
saja apa kata Bapak mu itu. Apa kamu nggak lapar, ngurung di kamar terus.”
Nala : “Lapar Bu,
tapi Nala tahan.” (nada bicara manja, keluar dari kamar)
Ibu : “Sana,
cepat makan. Nanti perut kamu sakit.”
Nala : “Ya, Bu.”
Dengan segera, Nala menuju meja makan. Setelah makan.
Nala : “Bu, apa bener Juragan Karto itu mau ngambil Nala
dari Bapak sama Ibu kalau Bapak nggak bisa melunasi hutangnya?”
Ibu : “Iya, itu
benar. Tapi kamu tenang aja, Ibu sudah punya rencana.”
Nala : “Tapi, Bu, itu tetap saja
bikin Nala malu. Apa kata tetangga, gadis secantik akau nikah sama tua bangka
kayak gitu?”
Dari dalam ruangan tersebut, mereka mendengar kegaduhan. Nampak Anak
Buah 1 berada di depan rumah mereka. Ibu dan Nala merasa ketakutan seketika
itu. Namun Ibu dengan segera menguasai perasaannya kembali.
Anak Buah 1 : (menggedor pintu)“Hei
Brata! Cepat buka pintunya, sebelum pintu mu rusak.”
Nala : (mengintip
dari jendela)“Ada apa itu, Bu? Itu anak buah juragan bu? ( ketakutan)
Ibu : “Iya. Ssst, kamu jangan
takut. Ibu akan menemui mereka” (keluar menemui anak buah)
“Ada apa
kalian ke mari?”
Anak Buah 1 : “Eh sekarang
gantian Bu Brata, ya. Brata mana? ”
Ibu : “Bapak lagi pergi kerja.
Kenapa kau ke mari, bukankah pembayaran hutangnya masih lusa?”
Anak Buah 1 : (meliirk Nala di
dalam rumah, senyum senang) “Yang di dalam itu, Nala ya Bu?
Duh
pucuk diminta ulam pun tiba.”
Ibu : “Heh, jangan macam- macam
sama anakku , ya. Kau ke mari hanya urusan hutang.” (memenuhi pintu)
Anak Buah 1 : “Cih, , aku ke mari untuk menyampaikan
pesan juragan, jika lusa hutang kau belum juga lunas, kau harus pilih, rumahmu hangus
atau anak mu kau serahkan ke juragan.”
Ibu : “Baiklah. Jangan kuatir.
Suamiku akan melunasinya!” (melipat tangan di dada,menutup pintu)
Nala : (menghampiri Ibu)“Gimana mau
lunas, Bu?”
Ibu : “Kamu tenang aja, pokoknya
besok kamu ikuti rencana Ibu.” (Kipas- kipas)
Nala : “Aku nggak mau, kalau rencana itu, aku di suruh jual motor. Aku juga
nggak mau kalau Ibu menyerahkan ku ke Juragan!” (meninggalkan meja makan dan
masuk ke kamar)
Ibu pun
mengikuti Nala dari belakang untuk memberitahu Nala tentang rencana tersebut.
ADEGAN 6
Hari yang dinanti nanti oleh Juragan Karto pun tiba. Dengan santai, juragan bersama anak
buahnya pergi ke rumah Pak Brata. Burung- burung yang mulai masuk ke sarang
nampak setia menemani kedatangan juragan ke rumah Pak Brata. Namun rumah Pak
Brata sore itu nampak sepi.
Anak
Buah 1 : “Woe Brata,ini juragan. Cepat
buka pintu mu dan lunasi hutang- hutangmu.!” (menggedor-gedor pintu)
Pak Brata : (Teriak
di dalam rumah) “Sebentar.
(berbicara sendiri, mencari
Nala dan Ibu di dalam rumah) “Ibu, Nala, kalian itu di mana, ini Juragan Karto
datang. Bu!” Bu? Nala? Hess, pada ke mana mereka. Lagi di butuhkan malah pergi
nggak jelas.”
(Hening)
Anak Buah 1 : (teriak dari luar)
“Nggak usah pakai lama, mana uangmu.”
Juragan Karta : ‘Ssst, jangan keras-
keras, ini rumah orang susah. Nanti ndak tambah
susah.”
Anak Buah 1 : “Baik, juragan.”
Pak Brata :
(keluar dari rumah) “Ini uangnya.”(menyerahkan uang)
Juragan
Karta : “Hemm, akhirnya kau bisa melunasi
uang mu itu. Uang sebenarnya bukanmasalah besar bagiku. Yang aku inginkan
sekarang anakmu. Mana anakmu itu? ”(menengok ke dalam ruah, mencari Nala)
Pak
Brata : “Saya tidak tahu Juragan,
saya juga baru pulang dari kerja. Tadi pagi anak dan istri saya masih ada di rumah.” (ikut-ikutan menengok ke
dalam rumah)
Juragan Karta : “Benar- benar cerdik. Mereka pasti kabur dan
membiarkan mu mengurus semua hutang- hutang ini sendirian.” (sinis)
Pak Brata : “Lhah, bukannya juragan mau ngambil
anak saya kalau saya nggak bisa melunasi hutangnya? Hutang saya kan sudah
lunas. Mengapa juragan masih menanyakan anak saya?”
Juragan Karta : “Aku orang yang punya kuasa di sini, harta
aku punya, melimpah. Jadi aku boleh melanggar janji ku kapan saja. (menunjuk Pak
Brata dengan tongkat) Berbeda denganmu, kau orang miskin, kau tak punya hak
untuk merubah setiap janji- janjimu.”
(berbalik ke arah anak
buah) hehh kalian, cepat hanguskan rumah tua ini!jangan buang- buang waktu.”
Anak buah : “Baik juragan,
(sambil menyiramkan bensin ke rumah Pak Brata.)
Pak
Brata : “Jangan
juragan, jangan bakar rumah saya. Juragan memang berkuasa, tapi setidaknya
pikirkanlah bagaimana nasib juragan bila berada di posisisi saya! Juragan harus
bijaksana menggunakan kekuasaan juragan!” ( membentak ke juragan kemudian
menyiram rumah dengan air yang ada di halaman)
Juragan Karta : “Apa katamu? Aku
berada di posisi mu? Hal yang mustahil!
(menoleh ke Anak Buah 1) Paijo, kamu lapar?
(tanpa memperdulikan Pak Brata)
Anak Buah 1 : “Iya, juragan. Juragan mau mengajak saya ke
restoran?” (mendekat ke juragan, sumringah)
Juragan Karta : “Tentu saja. ayo pergi. Semuanya kan sudah
beres.”
Anak Buah : “Baik juragan.”
Juragan dan anak buah pun pergi dari rumah Pak Brata, tanpa
memperdulikan apa yang Pak Brata lakukan. Sementara itu, dari kejauhan nampak
Ibu dan Nala tercengang melihat kejadian tersebut. Namun terlambat, tak ada
yang dapat mereka lakukan. Api telah merambat ke rumah Pak Brata.
Nala: : “Ibu benar- benar tega sama Bapak.
Kalau tahu begini, aku lebih baik menyerahkan motorku sama Bapak!” (kecewa, menangis)
Dan di pojok gang itu lah mereka berada, dengan penyesalan yang dalam
mereka meratapi rumah yang dulu mereka
huni. Sejatinya penyesalan memang selalu berada di akhir dan tak ada guna untuk
meratapinya.
SELESAI
