Popular Post

Archive for 2014

NASKAH DRAMA BAHASA INDONESIA

By : Kawaii Yondaime^^
Dia Ayahmu
SHOFIYAH/24/XI A5
ADEGAN 1
Di suatu perkampungan yang tak begitu padat akan penduduk, tinggalah sebuah keluarga dengan kesederhanaanya. Rumah yang mereka tinggali memiliki teras yang terisi oleh empat buah kursi kayu dan sebuah meja kecil yang bundar ditambah dengan keramik yang berwarna hijau lumut. Jam baru menunjukkan pukul 10.00  ketika Pak Brata sedang menerima tamu.
Pak Brata          : (kaget) “Lhah? Mengapa kalian datang lagi ke mari? Bukan kah waktu pelunasan hutangnya masih dua minggu lagi?”
Anak Buah 1     : “Iya. Memang masih dua minggu lagi. Kamu pikir, keperluan apa lagi kita ke sini selain ngurusi utang- utang mu itu?”
Anak Buah 2     : (mengangguk- angguk) “ Heh, kamu jangan sok penting ya jadi orang, urusi saja utang- tang mu itu!”
Pak Brata          : (berbicara dalam hati) “Dasar anak buah. Bisanya Cuma kroyokan.”
(berbicara normal) “Iya. Kalian ke mari mau menyampaikan pesan juragan? Juragan marah sama saya?”
Anak Buah 2       :“Nah, tumben kamu pinter. Sadar kalau hidup di belakang bayang- bayang juragan.” (mengejek
Anak Buah 1        : (tegas,mengangkat kaki di atas meja)“Langsung ke inti saja. Juragan bilang, kalau dua minggu lagi kalian belum bisa melunasi hutang- hutang mu yang seabrek itu, anak mu itu,ingat ANAKMU, akan menjadi taruhannya.”(tersenyum sinis)
Pak Brata          : (Kaget, marah) “Ingat ya, anak saya tidak ada hubungannya dengan hutang- hutang ku itu ke juragan. Kalian jangan berani bawa anakku. Kurang ajar. Lebih baik kau bawa saja aku. Kalau perlu, jadikan aku budak untuk juragan.”
Anak Buah 2     : “Eh, orang ngutangan bisa marah to.” (terheran- heran, muka bloon)
Anak Buah 1     : (menyuruh Anak Buah 1 diam)“Hah, menjadikanmu budak? Kamu pikir juragan bodoh apa? Itu hanya untung di kamu.”
Anak Buah 2     : “Kalau anak mu itu kan aduhai, semampai.” (membayangkan anak Pak Brata)
                            “Juragan untung kalau kita berdua membawa dia.”
Pak Brata          : (marah) Aku memang punya hutang dengan juragan, tapi kan bentuknya uang. Jadi kembalinya juga harus uang dong, masak kembalinya jadi anakku.”
Anak Buah 1     : “Terserah apa katamu. Lebih baik kau pikir baik- baik bagaimana caramu membayar hutang juraggan itu, jika kau tidak mau anakmu ku bawa ke hadapan juragan.”
Pak Brata          : (mantap)“Baiklah, aku pasti melunasi hutangku itu.”
Anak Buah 1     : (berdiri) “Ah, membosankan bicara sama orang kolot. Saban hari jawabannya, aku pasti akan melunasinya (menirukan logat Pak Brata). Kuping ku lama- lama panas di sini. Cabut yok Bro.”
Anak Buah 2     : (ikut berdiri) “Oke.”
Mereka pun pergi meninggalkan rumah Pak Brata. Pak Brata pun segera masuk ke dalam rumah.

ADEGAN 2
Di sebuah ruang tengah yang terisi oleh TV 14 inch, 3 buah kursi bambu, 1 buah meja bambu kecil, nampak Pak Brata yang sedang memikirkan sesuatu. Dari dalam ruangan itu, Pak Brata melihat Nala, anak satu- satunya yang hanya lulusan SMA,berada di halaman sedang turun dari motor yang baru dibeli beberapa minggu yang lalu.
Nala                   : (masuk ke ruang tengah, berhenti berjalan ketika melihat Pak Brata yang tampak menerawang) “Kenapa murung gitu, Pak? Hidup itu dibuat santai aja Pak, kayak di pantai. Jangan dibawa susah melulu. Orang hidup kita itu sudah susah, masih mikir yang susah- susah.”
Pak Brata          : “Bapak nggak murung, La. Bapak Cuma lagi mikir sesuatu.”
                          (berbicara lirih sambil berbicara ke arah lain) “Lha gene kamu itu dong (tahu) nduk, kalau hidup kita itu sudah susah. Kamu masih saja minta dituruti semuanya.”
Nala                   : “Bapak ngomong apa, Pak? Nala nggak denger.”
Pak Brata          : (membaca koran)“Bukan apa- apa kok, nduk. Kamu senang sudah keturutan beli motor barunya?”
Nala                   : (duduk di sebelah Pak Brata)“Wah, seneng banget, Pak. Temen ku pada iri. Nala gitu.”
Pak Brata          : “ Oh ya sudah, kalau kamu seneng.”
Nala                   : “Bapak nggak seneng ya, kalau Nala seneng? Nala nyusahin Pak Brata ya?”
                           (pura-pura melas)
Pak Brata          : “Bapak seneng. Sudah sana mandi.”
Nala                   : “Bagus deh kalau gitu, Nala mandi dulu ya Pak.” (pergi ke KM)
Pak Brata          : (Melihat kepergian Nala, melipat koran)“Seneng apanya, nduk. Gara- gara motor kamu itu, kamu diincar juragan. Gimana caranya ngomong sama kamu itu.”
Datang Ibu yang baru saja pulang dari arisan di rumah tetangga.
Ibu                     : “Assalamu’alaikum. (mencium tangan Pak Brata)
Pak Brata          : “Wa’alaikumusalam. Dari mana Bu? Dari warung tetangga?”
Ibu                     : “Enggak lah, Pak. Ini kan Kamis, Ibu dari arisan di rumah Bu Bandi, Pak.”
Pak Brata          : “Dapat arisan nggak,Bu?”
Ibu                     : “Belum e, Pak. Lha kenapa to ,Pak?”
Pak Brata          : “Gini, Bu. Tadi anak buah Juragan Karto datang ke mari, katanya hutang kita harus lunas dua minggu lagi. Kalu enggak…”
Ibu                     : “Kalau enggak kenapa, Pak? Sesuatu yang buruk ya, Pak?”
Pak Brata          : “Kalau enggak, anak kita, Nala, akan di minta oleh juragan.” (sedih)
Ibu                     : “Ya ampun, tega bener juragan sama  kita.”
Pak Brata          :“Makdarit (maka dari itu), Bu, Bapak bingung harus gimana. Bapak nggak tega untuk memberitahu Nala.”
Ibu                     : “Nanti Ibu usahakan bicara sama Nala, Pak.”

ADEGAN 3
Di ruangan yang sangat luas, dengan berbagai properti yang mewah, tampak seorang lelaki yang usianya hampir 60 tahun duduk di sebuah kursi. Kursi mewah yang bercorak kulit harimau Sumatra asli yang ia daat beberapa waktu lalu. Beberapa pengawal yang berbadan kekar, gagah, bermuka sangar, dengan sebuah pistol di sakunya berdiri dengan tegap di kiri kanan lelaki tersebut. Lelaki dengan tongkat di tangan  kanannya tersebut tampak memanggil seseorang.
Juragan Karto    : “ Pengawal, tolong panggilkan dua anak buahku.”(membelakangi pengawal)
Pengawal 1        : “Baik,juragan.” (membungkuk dan pergi mencari anak buah)
Tak beberapa lama kemudian.
Pengawal 1        : “Ini juragan.”
Juragan Karto    : “ Kerja bagus.”(menengok ke arah anak buah)
                           (menoleh ke Anak buah 1 dan 2)“Bagaimana? Apa kalian sudah menyampaikan pesan ku pada Brata?”
Anak Buah 1     : “Sudah, Juragan.”(menjawab dengan mantap)
Juragan Karto    :“Bagus. Bagaimana reaksinya tadi? Salah sendiri, punya hutang banyak kok  nggak berusaha mbayar.”
Anak Buah 2     : “Reaksinya sangat bagus, Juragan. Dia marah- marah. Bahkan dia sangat yakin akan membayar hutang-hutangnya itu.”
Juragan Karto    : “Pokoknya, jangan sampai dia tak bayar hutang itu. Atau kalau perlu, kalian tarik saja rumahnya. Biar dia tahu sipa aku sebenarnya..” (berbicara dengan angkuh)
Anak Buah1&2 : “Baik Juragan, kami mengerti.”(membungkuk)
Juragan Karto    : “Bagus- bagus.(mengusap- usap dagu)
                            Aku yakin, dua minggu lagi, mereka pasti belum mampu membayar hutangnya.  Aku harus membuat penawaran lain. Apakah kalian memiliki ide lain untuk menakut- nakuti dia?”(memperhatikan kedua anak buah)
ADEGAN 4
Hari telah berganti. Seminggu lebih sudah lewat. Tampak Pak Brata tengah termenung di ruang tengah ditemani secangkir kopi dan Ibu berada di sampingnya. Walau demikian, pikiran Pak Brata belum berganti. Otaknya masih berpikir seputar hutangya kepada Juragan Karto.

Pak Brata          : “Gimana, Bu? Ibu sudah memberi tahu ke Nala belum?”(minum kopi)
Ibu                     : “Belum, Pak. Ibu juga takut, Pak. Anak kita itu kan nekat. Sebentar- sebentar kabur.”
Pak Brata           : “Masa sesama perempuan takut, Bu. Ibu seharusnya bisa ngadepin dia.
                             Ealah Bu, Bapak itu heran, kita ini dititipi anak satu  sama Gusti Allah, tapi mengapa polahnya itu lho, selalu bikin kita mengelus dada.”
Ibu                     : “Tapi kan itu anak kita satu- satunya, Pak. Kalau nggak keturutan nanti pakai acara kabur- kabur- kabur segala. Ibu itu sebenarnya juga bingung, mau ngadepin dia kayak gimana.”
Pak Brata          : “Itu salah Ibu. Coba kalau dulu Ibu nggak langsung nurutin apa yang Nala minta, pasti nggak kayak gini. Sudah punya motor, masih mau motor baru. Ibu sih, membela Nala, pake acara nggak mau jual motor yang lama segala.”
Ibu                     : “Bapak jangan langsung nyalahin Ibu, ya. Ibu kan sayang sama Nala, Pak. Ibu juga sudah terlanjur sayang sama motor itu. Ibu kalau ke arisan kan bisa bergaya. Lagian kan Bapak juga bisa pakai motor itu kalau pergi kerja. Nala juga bisa gonta ganti motor kalau mau main. Tetangga akan bilang kalau kita itu berduit.”
                            (menoleh ke Bapak, dengan tampang menginterograsi) Lhah, sekarang Ibu tanya, kenapa juga Bapak mau beliin Nala motor?”
Pak Brata          : (meniru mimik dan gerakan bibir Ibu)
                          “Apa Ibu lupa? Kan tiap pagi, tiap siang, tiap malam, Ibu maksa Bapak. Bapak risih, Bu. Ya sudah, Bapak langsung pinjam saja uang ke Juragan Karto. Biar Ibu itu bisa diam. Eh, malah sekarang begini masalahnya.”
Ibu                     : “Esss, sudah sudah. Kok jadi ribut gini to, Pak. Ayo kita langsung kasih tahu Nala saja kalau dia sudah pulang.”
Pak Brata          : .(nada setengah mengejek) “Paling pulangnya juga sore. Anak perempuan kok kerjaannya Cuma maiiiiin mulu. Didik anak itu yang bener to, Bu. Didik anak satu aja kok repotnya minta ampun.”
Ibu                     : “Lha, mulai lagi. Itu kan anak kita, Pak. Mengapa yang disalahin Cuma Ibu? “
Pak Brata          : “ Ess, capek ngomong sama Ibu. Nasib jadi lelaki tunggal di rumah, nggak pernah dihargai!” (pergi meninggalkan Ibu)
Beberapa jam kemudian, nampak Nala di halaman depan.
Pak Brata                    : “Dari mana saja kau, Nala?” (duduk merenung di teras)
Nala                 : “Dari rumah temen, Pak. Ada apa, Pak? Kok serius amat?” (duduk di depan Pak Brata)
Pak Brata        : “Kamu itu anak perempuan, kerjaanya kok main mulu. Kamu itu mbok yo             sekali- kali bantuin Ibu mu. Kamu nggak mau Bapak sama Ibu mu ini cepat tua gara- gara marahin kamu terus, to?”(marah)
Nala                   : “Kenapa Bapak tiba- tiba jadi marah sama Nala? Nala jelas nggak mau, lah. (cuek)
Pak Brata        : “Lha kamu itu, apa-apanya kan sudah Bapak turutin. Kamu minta sepeda motor baru, Bapak beliin. Itu kan biar  kamu itu nurut sama Bapak dan Ibu mu. Tapi kamu ini, punya motor baru, malah kluyuran nggak jelas, pulang- pulang sore begini. Kamu minta motor cuma gengi kan? Kalau saja Ibu mu itu mau jual motor kita yang dulu itu, kita tak akan terbelit hutang sebesar itu. Mana utang Bapak yang kemarin masih nunggak lagi.”
Nala                : “Iya, Pak. Lha kalau Nala nggak punya motor baru, nggak ada yang mau temenan sama Nala, Pak. Kalau hutang itu kan urusan Bapak sama Ibu.”(memain- mainkan rambutnya)
Pak Brata        : “Nala, kamu itu sudah besar. Sudah tau mana yang salah dan mana yang benar. Dunia ini nggak sempit. Masak Cuma nggak punya motor, nggak ada yang mau temenan. Kayak anak kecil saja.
(duduk tegap) Ingat, kamu ini lulusan SMA, mbok  kamu itu coba ngelamar pekerjaan, bantu pemasukan Bapak, nggak cuma tidur, makan, keluyuran. Bapak ngutang kan karena kamu dan Ibu mu itu. Apa- apa alesannya gengsi. Gengsi boleh, tapi lihat- lihat kondisi, lha wong keluarga kita pas- pasan gini kok masih mikir gengsi.. ”
Nala                : “Iya Pak, iya. Nala tahu. Gengsi out perlu,Pak. Sangat perlu, Pak.”
Pak Brata        : “Kamu ini tahu kan, kalau kita ini nggak mampu, kamu tahu kalau kita selalu minjam sama Juragan Karto? Kemarin, Juragan Karto bilang kalau kita nggak punya uang buat bayar, kamu akan dijadikan simpanan, budaknya, atau entah apalah, Bapak nggak peduli. (pura- pura acuh)
                         Kamu nggak mau kan dijadikan budak?” (melihat Nala)
Nala                : (kaget bukan main) “Apa? Dijadikan simpanan orang tua kayak gitu? Enggak mau lah. Dia itu kurang puas apa, istri sudah 3, harta berlimpah, serakah. Ogah banget. Nala nggak mau.” (melipat tangan di dada, geleng-geleng)
Pak Brata        : “Nah, kalau kamu nggak mau, kamu mau kan, jual motor kamu itu buat bantu nglunasin utang Bapak dan Ibu? Nanti kalau Bapak sudah dapat rejeki lagi, Bapak akan beliin kamu motor baru. Atau kamu bisa gadaikan motor yang lawas itu.”
Nala                : “Lhah, kok gitu, Pak? (terkejut) Palingan rejekinya datang lima tahun lagi. (sinis)
                          (menyondongkan wajah ke arah Pak Brata) Kan masih ada sawah, Pak. Kalu motornya di jual, nanti Nala main pake apa, Pak? Nala dicap anak kampung, nggak punya motor.”
Pak Brata                    : “ Baik, kalau itu maumu. Motor mu nggak Bapak jual, tapi kamu harusikut juragan! (mengangguk- angguk santai)”
Nala                : “Lhah. Bapak kok gitu, tega sama anaknya sendiri. Terserah Bapak.!” (meninggalkan Bapak, maasuk ke kamar.)
Nala                :  (membanting pintu, menyetel musik sekeras- kerasnya)
Pak Brata        : (bicara lirih) “Bapak sebenarnya terpaksa ngomong keras ke kamu, biar kamu itu sekali- kali nurut sama orangtua. Nggak orangtua yang selalu nurutin kamu.”
Setelah kejadian itu, Nala mengurung diri di kamar hingga keesokan harinya dan tak kunjung ke luar.

ADEGAN 5
Ibu nampak khawatir. Anak semata wayangnya tak kunjung keluar kamar. Berkali kali ia mengetukpintu itu, namun tak ada jawaban.
Ibu                   : “Nala, bangun Nak. Jangan mutung gitu, to. Ibu sedih kalau kamu mutung terus.                          Bapak mu sudah pergi kerja.”
Nala                 : (teriak dari dalam kamar) “Beneran, Bu? Bapak sudah pergi kerja?”
Ibu                   : “Iya. Ayo buruan ke luar. Biarkan saja apa kata Bapak mu itu. Apa kamu nggak lapar, ngurung di kamar terus.”
Nala                 : “Lapar Bu, tapi Nala tahan.” (nada bicara manja, keluar dari kamar)
Ibu                   : “Sana, cepat makan. Nanti perut kamu sakit.”
Nala                 : “Ya, Bu.”
Dengan segera, Nala menuju meja makan. Setelah makan.
Nala                 : “Bu, apa bener Juragan Karto itu mau ngambil Nala dari Bapak sama Ibu kalau Bapak nggak bisa melunasi hutangnya?”
Ibu                   : “Iya, itu benar. Tapi kamu tenang aja, Ibu sudah punya rencana.”
Nala                : “Tapi, Bu, itu tetap saja bikin Nala malu. Apa kata tetangga, gadis secantik akau nikah sama tua bangka kayak gitu?”
Dari dalam ruangan tersebut, mereka mendengar kegaduhan. Nampak Anak Buah 1 berada di depan rumah mereka. Ibu dan Nala merasa ketakutan seketika itu. Namun Ibu dengan segera menguasai perasaannya kembali.
Anak Buah 1   : (menggedor pintu)“Hei Brata! Cepat buka pintunya, sebelum pintu mu rusak.”
Nala                 : (mengintip dari jendela)“Ada apa itu, Bu? Itu anak buah juragan bu? ( ketakutan)
Ibu                   : “Iya. Ssst, kamu jangan takut. Ibu akan menemui mereka” (keluar menemui anak buah)
                        “Ada apa kalian ke mari?”
Anak Buah 1   : “Eh sekarang gantian Bu Brata, ya. Brata mana? ”
Ibu                   : “Bapak lagi pergi kerja. Kenapa kau ke mari, bukankah pembayaran hutangnya masih lusa?”
Anak Buah 1   : (meliirk Nala di dalam rumah, senyum senang) “Yang di dalam itu, Nala ya Bu?
                          Duh pucuk diminta ulam pun tiba.”
Ibu                     : “Heh, jangan macam- macam sama anakku , ya. Kau ke mari hanya urusan hutang.” (memenuhi pintu)
Anak Buah 1   : “Cih, , aku ke mari untuk menyampaikan pesan juragan, jika lusa hutang kau belum juga lunas, kau harus pilih, rumahmu hangus atau anak mu kau serahkan ke juragan.”
Ibu                   : “Baiklah. Jangan kuatir. Suamiku akan melunasinya!” (melipat tangan di dada,menutup pintu)
Nala                 : (menghampiri Ibu)“Gimana mau lunas, Bu?”
Ibu                   : “Kamu tenang aja, pokoknya besok kamu ikuti rencana Ibu.” (Kipas- kipas)
Nala                 : “Aku nggak mau, kalau rencana itu, aku di suruh jual motor. Aku juga nggak mau kalau Ibu menyerahkan ku ke Juragan!” (meninggalkan meja makan dan masuk ke kamar)
Ibu pun mengikuti Nala dari belakang untuk memberitahu Nala tentang rencana tersebut.

ADEGAN 6
Hari yang dinanti nanti oleh Juragan Karto  pun tiba. Dengan santai, juragan bersama anak buahnya pergi ke rumah Pak Brata. Burung- burung yang mulai masuk ke sarang nampak setia menemani kedatangan juragan ke rumah Pak Brata. Namun rumah Pak Brata sore itu nampak sepi.
Anak Buah 1   : “Woe Brata,ini juragan. Cepat buka pintu mu dan lunasi hutang- hutangmu.!” (menggedor-gedor pintu)
Pak Brata                    : (Teriak di dalam rumah) “Sebentar.
(berbicara sendiri, mencari Nala dan Ibu di dalam rumah) “Ibu, Nala, kalian itu di mana, ini Juragan Karto datang. Bu!” Bu? Nala? Hess, pada ke mana mereka. Lagi di butuhkan malah pergi nggak jelas.”
(Hening)
Anak Buah 1   : (teriak dari luar) “Nggak usah pakai lama, mana uangmu.”
Juragan Karta  : ‘Ssst, jangan keras- keras, ini rumah orang susah. Nanti ndak tambah susah.”
Anak Buah 1   : “Baik, juragan.”
Pak Brata                    : (keluar dari rumah) “Ini uangnya.”(menyerahkan uang)
Juragan Karta  : “Hemm, akhirnya kau bisa melunasi uang mu itu. Uang sebenarnya bukanmasalah besar bagiku. Yang aku inginkan sekarang anakmu. Mana anakmu itu? ”(menengok ke dalam ruah, mencari Nala)
Pak Brata        : “Saya tidak tahu Juragan, saya juga baru pulang dari kerja. Tadi pagi anak dan istri saya  masih ada di rumah.” (ikut-ikutan menengok ke dalam rumah)
Juragan Karta  : “Benar- benar cerdik. Mereka pasti kabur dan membiarkan mu mengurus semua hutang- hutang ini sendirian.” (sinis)
Pak Brata        : “Lhah, bukannya juragan mau ngambil anak saya kalau saya nggak bisa melunasi hutangnya? Hutang saya kan sudah lunas. Mengapa juragan masih menanyakan anak saya?”
Juragan Karta  : “Aku orang yang punya kuasa di sini, harta aku punya, melimpah. Jadi aku boleh melanggar janji ku kapan saja. (menunjuk Pak Brata dengan tongkat) Berbeda denganmu, kau orang miskin, kau tak punya hak untuk merubah setiap janji- janjimu.”
                        (berbalik ke arah anak buah) hehh kalian, cepat hanguskan rumah tua ini!jangan buang- buang waktu.”
Anak buah       : “Baik juragan, (sambil menyiramkan bensin ke rumah Pak Brata.)
Pak Brata                    : “Jangan juragan, jangan bakar rumah saya. Juragan memang berkuasa, tapi setidaknya pikirkanlah bagaimana nasib juragan bila berada di posisisi saya! Juragan harus bijaksana menggunakan kekuasaan juragan!” ( membentak ke juragan kemudian menyiram rumah dengan air yang ada di halaman)
Juragan Karta  : “Apa katamu? Aku berada di posisi mu? Hal yang mustahil!
                         (menoleh ke Anak Buah 1) Paijo, kamu lapar? (tanpa memperdulikan Pak Brata)
Anak Buah 1   : “Iya, juragan. Juragan mau mengajak saya ke restoran?” (mendekat ke juragan, sumringah)
Juragan Karta  : “Tentu saja. ayo pergi. Semuanya kan sudah beres.”
Anak Buah      : “Baik juragan.”
Juragan dan anak buah pun pergi dari rumah Pak Brata, tanpa memperdulikan apa yang Pak Brata lakukan. Sementara itu, dari kejauhan nampak Ibu dan Nala tercengang melihat kejadian tersebut. Namun terlambat, tak ada yang dapat mereka lakukan. Api telah merambat ke rumah Pak Brata.
Nala:                : “Ibu benar- benar tega sama Bapak. Kalau tahu begini, aku lebih baik menyerahkan motorku sama Bapak!” (kecewa, menangis)
Dan di pojok gang itu lah mereka berada, dengan penyesalan yang dalam mereka  meratapi rumah yang dulu mereka huni. Sejatinya penyesalan memang selalu berada di akhir dan tak ada guna untuk meratapinya.
SELESAI


- Copyright © 2013 Kawaii Yondaime^^ - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -